Grow Safe With Us

Waspadai Cinta Posesif

Adakah cinta yang berlebih sehingga menyakiti? Well,, jangan percaya. Cinta, semestinya tak boleh menyakitkan. Meski itu ada.

Saya pernah begitu dekat dengan seorang perempuan. Kami bersahabat sejak SMA dan sangat akrab. Setelah memasuki tahun pertama perkuliahan, kami semakin jarang bertemu. Saya dengar kabar, ia sudah punya pacar. Dari jarang bertemu, jarang berkirim kabar, lama-lama ia seperti hilang ditelan bumi. Bahkan nomor ponselnya tak bisa lagi saya hubungi. Sampai suatu hari saya mendengar kabar, ia sering mendapat perlakuan kasar dari pacarnya. Tidak hanya melalui verbal, tapi si pacar rupanya sering main tangan. Namun saya lebih kaget ketika tahu bahwa N tidak berniat buat putus dengan pacarnya. Malah katanya, semakin lengket.

Well, mereka memang sering berkelahi. Teman saya berkali-kali minta putus, tapi si pacar selalu berhasil membuat ia luluh. Apakah teman saya matre? Saya kira tidak, mengingat ia berasal dari keluarga terpandang dengan ekonomi di atas rata-rata untuk ukuran kota saya. Ia berubah drastis. Dari perempuan yang periang menjadi orang yang sangat tertutup.

Abusive in relationship memang bisa mengubah perilaku individu secara drastis. Parahnya, para korban tidak menyadari adanya perubahan pada diri mereka ke arah yang buruk dan malah menikmati kondisi tertekan itu.

Menurut Mariana Amiruddin, Komisioner Komnas Perempuan, banyaknya kasus kekerasan dalam berhubungan dikarenakan orang Indonesia masih tabu membicarakan hubungan percintaan, baik yang legal ataupun yang belum resmi. Selain itu, banyak orang Indonesia yang tidak bisa memperjuangkan hak-hak pribadi mereka secara hukum.

“Banyak orang hanya tahu apa yang baik dan apa yang seharusnya mereka lakukan. Tapi mereka kurang edukasi terhadap hak-hak mereka sendiri” ucap Mariana.

Contoh sederhananya saja seperti masalah privasi. Banyak orang Indonesia yang secara diam-diam memeriksa ponsel atau akun Facebook pasangannya. Pelaku memiliki perasaan cemburu yang ekstrim hingga mereka mengisolasi pasangannya dari hubungan keluarga dan teman-temannya. Untuk tingkat yang lebih parah, mereka sering mempermalukan pasangannya di depan umum. Sayangnya, hal-hal tersebut masih dianggap biasa oleh masyarakat Indonesia. “Kita menganggap selama tidak ada penyerangan fisik itu masih wajar” ujar Mariana.

Kekerasan dalam hubungan lawan jenis sendiri ada tahapannya. Pertama adalah periode ledakan dimana akan terjadi kekerasan fisik, emosional, verbal, atau seksual . Setelah itu, diikuti oleh masa bulan madu atau baikan setelah pelaku meminta maaf. “Pada tahap ini pelaku akan menyesali perbuatannya dan berjanji akan berubah” jelas Angesty Putri Pulih, seorang psikolog yang sering mengadakan konseling untuk kasus KDRT.

Karena pola seperti itu, korban jadi sulit membedakan antara romantis dan posesif. Biasanya pelaku akan mengatasnamakan cinta untuk mengekang pasangannya. Pacar teman saya, misalnya, sengaja membatasi pergaulan karena dianggap memberikan dampak buruk. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya.

Berpikir menggunakan logika yang jernih merupakan cara terbaik agar terhindar dari abusive in relationship. Cinta memang berhubungan dengan perasaan, namun jangan melupakan akal sehat ketika bermain di dalamnya. Percayalah dengan insting Anda sendiri bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan di suatu hubungan. Perhatikan intensitas, apakah menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu, apakah Anda menjadi kehilangan waktu bersama keluarga dan teman-teman terdekat. Jika jawabannya iya, sudah saatnya Anda menghubungi pihak terpercaya, misalnya Komnas Perempuan.